TUGAS SOFTSKILL
MANAJEMEN PEMASARAN ERA REVOLUSI
INDUSTRI 4
Nama : Mustofa Rafid
NPM : 15216174
Jurusan : Manajemen
Kelas : 4EA31

FAKULTAS
EKONOMI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
1.
PROFIL
PERUSAHAAN
Japan
Airlines adalah salah satu maskapai penerbangan dunia yang sudah dikenal
reputasinya yang baik. Baik dalam hal pelayaann di darat maupun di udara.
Itulah mengapa, maskapai yang berdiri sejak 1 Agustus 1951 sering menjadi barometer
pelayanan maskapai lain di dunia. Untuk penerbangan internasional pertamanya,
Japan Airlines menempuh Tokyo – San Fransisco menggunakan pesawat Douglas DC 6.
Penerbangan ini dilakukan pada tanggal 2 Februari 1954.
Dengan
kekuatan armada mereka yang cukup kuat, Japan Airlines tidak mengalami
kesulitan manakala pada tahun 1970an, pemerintah Jepang menerapkan deregulasi
penerbangan. Di antaranya melakukan privatisasi Japan Airlines dan membuka kran
persaingan di transportasi udara. Akhirnya dengan kondisi ini masuklah dua
pesaing baru, yaitu All Nipon Airways dan juga Japan Air System.
Perkembangan
selanjutnya yang terjadi, antara Japan Airlines dan Japan Air System kemudian
mengikat kerjasama. Proses kerjasama ini adalah kesepakatan kedua maskapai
untuk melakukan merger. Bergabungnya dua perusahaan ini terjadi pada tahun 2001
dan selesai pada tahun 2004. Untuk menjaga potensi pasar yang sudah terbentuk,
dan proses merger tersebut disepakati bahwa nama Japan Airlines akan
dipertahankan sebagai identitas perusahaan tersebut.
2.
LATAR
BELAKANG
Setelah
melakukan merger dengan nama Japan Air System, terjadi sedikit perubahan dalam
manajemen Japan Airlines. Salah satu yang dilakukan adalah masuk ke dalam
aliansi Oneworld sejak 1 April 2007. Sayangnya, keputusan ini justru tidak
diikuti dengan perkembangan positif dalam transaksi keuangan Japan
Airlines.
Salah
satu dampak yang terasa adalah kerugian besar yang menimpa Japan Airline pada
tahun transaksi 2009. Perusahaan ini mengalami goncangan yang sangat dahsyat
dan mengancam stabilitas. JAPAN AIRLINES Tak kuasa menanggung beban utang
korporat sekitar US$25,6 miliar. JAPAN AIRLINES mengajukan perlindungan pailit
kepada Pengadilan Distrik di Tokyo. Maskapai itu juga dibebani dengan
pembayaran gaji dan pensiun yang terus membengkak dan rute domestik nirlaba
yang secara politis wajib dipertahankan.
Untuk
menyelamatkan perusahaan dari ancaman kebangkrutan, akhirnya pemerintah
memberikan dana talangan sebesar 100 juta yen. Selain itu dibentuk pula
kepanitiaan yang bertugas menangani penyelesaian masalah keuangan maskapai
ini. Beberapa program pun dirancang demi menghindarkan Japan Airlines dari
kebangkrutan. Salah satunya dilakukan dengan menjual saham mayoritas kepada
American Airlines yang juga anggota Oneworld. Selain kepada American Airlines,
Japan Airlines sempat menjajaki kemungkinan menjual saham mereka kepada Delta
Airlines.
Namun
demikian, proses penjualan saham kepada Delta Airlines mengalami hambatan. Hal
ini disebabkan Delta Airlines merupakan anggota Sky team, aliansi penerbangan
seperti Oneworld. Dengan kondisi ini, Japan Airlines memutuskan tidak
melanjutkan proses transaksi dengan Delta, maka keanggotaan Japan Airlines akan
berada di bawah aliansi SkyTeam serta keluar dari Oneworld.
Jika
ini terjadi dikhawatirkan akan terjadi kebingungan di kalangan konsumen. Selain
itu, Japan Airlines akan kehilangan kesempatan perlindungan antimonopoli dari
agen Amerika Serikat. Hal ini merupakan salah satu kesepakatan yang didapat
dari perjanjian ruang terbuka Jepang dan Amerika Serikat.
Akhirnya
American Airlines menjadi salah satu maskapai yang memiliki kesempatan untuk
membeli saham mayoritas dari Japan Airlines. Meski pada saat yang bersamaan ada
beberapa maskapai besar lain yang sebenarnya juga berminat untuk memiliki saham
dari Japan Airlines seperti dari Prancis melalui Air France KLM, British
Airways dari Inggris dan juga Qantas dari Australia, namun Japan Airlines
menolak semua tawaran tersebut.
Namun,
meski sudah menjual saham mayoritas mereka masalah keuangan yang melanda Japan
Airlines belum juga selesai. Akhirnya sejak 19 Januari 2010, maskapai
dimasukkan ke dalam program Perlindungan Kebangkrutan Jepang. Dampak dari
kondisi ini adalah terjadinya restrukturisasi atau pengurangan jumlah karyawan
mereka. Sebelum mengalami masalah keuangan, Japan Airlines memiliki 47ribu
karyawan. Namun dengan kesulitan finansial yang melanda, mereka harus
menghentikan 15 ribu karyawan. Selain itu, armada yang dimiliki pun dikurangi
jumlahnya disamping juga mengadakan pembaruan pesawat. Sementara untuk masalah
rute penerbangan internasional, Japan Airline mengadakan penjadwalan ulang guna
mendapatkan efisiensi.
3.
PERMASALAHAN
Japan
Airline mengalami kebangkrutan akibat manajemen buruk selama bertahun-tahun,
biaya tinggi, serta tekanan pemerintah untuk melayani rute tidak menguntungkan
di bandara kecil. Selain itu, Japan Airlines terpuruk akibat krisis ekonomi
global.
Operasi
JAPAN AIRLINES yang merugi, hutang yang membengkak, kebijakan penerbangan yang
tidak efisien, dan birokrasi yang lambat, membuat kebijakan bail out. Masalah
mendasar dari JAPAN AIRLINES adalah “permainan’ dari segi tiga besi (iron
triangle) antara pengusaha, penguasa, dan politisi dalam operasional JAPAN
AIRLINES selama ini. JAPAN AIRLINES dianggap sebagai sebuah perusahaan besar
kebanggaan negeri yang tak boleh bangkrut (too big to fail). Oleh karena itu
suntikan likuiditas secara massif diberikan terus menerus kepada JAPAN
AIRLINES. Namun di sisi lain, operasi JAPAN AIRLINES tidak dibenahi secara
serius. Tekanan dari kekuatan politik dan pemerintah pada eksekutif JAPAN
AIRLINES untuk melayani ambisi mereka membuka route-route yang tidak
menguntungkan, telah menambah beban operasional JAPAN AIRLINES. Hal ini
ditambah lagi dengan berbagai masalah birokrasi dan remunerasi yang tidak
efisien.
Sejak
merugi di tahun 2001, lonceng kematian bagi JAPAN AIRLINES memang seolah hanya
menunggu waktu. Tragedi 9/11, wabah virus SARS, Flu Burung, ancaman teroris, di
samping resesi ekonomi, telah memukul JAPAN AIRLINES secara bertubi-tubi. Meski
melayani lebih dari 217 airport dan 35 negara, JAPAN AIRLINES menjadi perusahaan
penerbangan yang gemuk dan tidak efisien. Hutangpun membengkak hingga mencapai
sekitar Rp 200 triliun.
Bangkrutnya
JAPAN AIRLINES semakin memperkuat adanya masalah serius yang dihadapi oleh
perekonomian Jepang. Meski masih memegang gelar sebagai negara dengan
perekonomian terkuat nomor dua di dunia, Jepang bagai macan yang terluka.
Ekonominya melesu, pengangguran dan kemiskinan meningkat, dan perusahaan besar
berguguran. Bangkrutnya JAPAN AIRLINES adalah kebangkrutan terbesar perusahaan
di luar sektor keuangan sejak Perang Dunia ke-II. Oleh karena itu, upaya serius
untuk bangkit dari krisis sedang ditempuh oleh pemerintah Jepang.
4. MENGAPA JAL RUGI ?
Memiliki banyak rute
penerbangan internasional tak selamanya menguntungkan. JAL mengoperasikan 70
rute internasional, dan ini dijawabnya dengan berekspansi secara impulsif:
cabang dibuka di pelbagai negara, jumlah pekerja dinaikkan, perks untuk pekerja diperbanyak. Ekspansi ini
penting, namun strateginya dinilai tidak kompetitif menghadapi kebijakan open-sky, resesi global yang tak terduga dan perang
tarif (era penerbangan murah). Sehingga pada September 2009, laporan fiskal
interim-nya mencatat bahwa pendapatan JAL turun 43% menjadi 225.4 milyar yen
jika dibandingkan tahun 2008.
Rute internasional JAL
Dua anak perusahaannya, Japan Airlines
International Co. dan JAL Capital Co. pun terlilit hutang. Total hutang JAL dan
dua anak perusahaannya itu jadi sebesar 2.3 trillion yen. Angka yang melewati
level hutang 22 Sogo Group yang runtuh tahun 2000. Harga saham JAL pun menukik
tajam.
5.
DAMPAK
PUBLIK
Nasib
JAL yang terombangambing ke arah kebangkrutan membuat para pemegang saham
menjual sahamnya. Hal ini sangat melemahkan kepercayaan pasar, sehingga nilai
saham JAL di pasar modal terus mengalami penurunan dari 213 yen menjadi 67 yen hingga akhirnya
anjlok di titik 5 yen per lembar pada 19 Januari 2010.
6.
DAMPAK
PADA REPUTASI
Ketika
dihadapkan pada masalah kebangkrutan, pertimbangan yang diambil untuk mengatasi
masalah ini merupakan keputusan yang harus diambil dengan cermat. Hal ini tidak
terlepas dari status JAL sebagai representasi dari Japan Inc. Jika JAL
dibiarkan bangkrut maka harga diri Jepang akan menjadi tercoreng karena tidak
mampu mempertahankan perusahaan penting yang menjadi salah satu simbol
pemerintah Jepang. Jika JAL tetap diberi bailout seperti sebelumnya, tidak akan
menjamin bahwa JAL tidak akan menghadapi masalah serupa. Jika JAL dibiarkan
bangkrut, hal ini akan menjadi masalah yang besar dan sangat memalukan bagi
pemerintah Jepang di mata internasional. Dengan demikian, masalah ini
membutuhkan pertimbangan ekonomi politis. Namun, pada akhirnya pemerintah
Jepang membiarkan JAL bangkrut untuk kemudian direstrukturisasi.
7.
DAMPAK
BISNIS
JAPAN
AIRLINES juga harus memotong banyak kontrak dengan biro perjalanan, hotel, dan
berbagai jaringan pariwisata yang telah ada selama ini. Hal itu bisa merugikan
kalangan pengusaha, penguasa, dan tentu politisi yang punya kepentingan selama
ini.
8.
KEBANGKITAN
JAPAN AIRLINES
Melihat utang perusahaan yang kian membengkak dan penumpang yang
menurun, akhirnya pada 2010, Etic memilih Kazuo Inomuri, bos pensiunan
perusahaan keramik yang telah dibaiat menjadi biksu pada 1997 lalu. Inomuri
dikenal dengan prinsip mengutamakan pegawai dan berani menantang praktik bisnis
pada umumnya. Selama mengambil pekerjaan ini, ketika usianya berusia 77 tahun,
ia rela tidak mendapat gaji. Tujuannya agar para pegawai menyaksikan sendiri
bagaimana ia serius ingin menyembuhkan kondisi Japan Airlines. "Fakta
bahwa saya bekerja tanpa gaji memberikan pengaruh pada staff," ucapnya
pada South China Morning Post.
"Mereka dapat melihat bahwa saya bersusah payah ingin membangun kembali
perusahaan meski saya tidak punya hubungan pada JAL sebelum ini."
Sistem Amoeba
Sesuai reputasinya, ia mengubah sistem birokrasi di JAL,
dari sebelumnya bersifat hierarkis, menjadi sistem amoeba. Dalam sistem itu,
para departemen dan pegawai diberikan kesempatan berpikir agar tindakan mereka
dapat berkontribusi positif pada keuntungan perusahaan.
Dengan ini, semua elemen perusahaan pun mendapat
kepercayaan untuk ikut memperkuat perusahaan. Bila ada sesuatu yang tidak
mengalami improvement, Inamori
akan meneliti hal tersebut kepada sosok-sosok dari tiap departemen. Hasilnya
pun tidak mengeewakan. Pada tahun fiskal 2011/2012, maskapai JAL menjadi
maskapai paling profitable di dunia. Keuntungannya mencapai 186,6 miliar yen.
Pihak Etic sendiri memandang itu sebagai keajaiban, pasalnya target yang
dipatok hanya 60 miliar yen. Inamori menyelesaikan jabatannya sebagai CEO
JAL tak lama setelah perusahaan "sembuh" dan sahamnya kembali
diperdagangkan di bursa efek Jepang.
Mengutip Financial Times,
gaya kepemimpinan Inamori yang "berbeda" dari kultur hierarkis di
Jepang membuatnya spesial di antara para konglomerat di Jepang. Ia mengaku tak
suka dengan budaya serba menurut (complacency).
Buntut dari complacency adalah
timbulnya main aman yang justru kebalikan dari kultur inovatif. Inomori juga
pemimpin dari Inamori Foundation yang memberi penghargaan dan dana penelitian
di bidang sains, serta pencetus Hadiah Kyoto (Kyoto Prize) yang merupakan
penghargaan paling bergengsi di Jepang.
9. PENYEBAB KEBANGKITAN
Jepang Airlines dan American Airlines bekerja
sama untuk memberikan tarif murah, dengan rute dan penerbangan di
seluruh pasisik. Regulator Amerika dan Jepang memberikan persetujuan bagi
keduanya untuk memperkuat aliansi pada akhir tahun lalu, dengan menandatangani kesepakatan "Open skies” untuk mendorong
perjalanan udara. Kedua perusahaan itu telah bekerjasama selama 15 tahun
terakhir. Dengan aliansi itu,keduanya bisa menangguk
pendapatan 13 miliar yen (US$156 juta). Kerjasama ini juga penting bagi JAL untuk mengembalikan bisnisnya.
REFRENSI
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3815479/kisah-biksu-selamatkan-japan-airlines-dari-kebangkrutan

