Jumat, 18 Oktober 2019

KEBANGKRUTAN JAPAN AIRLINES


TUGAS SOFTSKILL
MANAJEMEN PEMASARAN ERA REVOLUSI INDUSTRI 4

Nama                          :   Mustofa Rafid
NPM                            :   15216174
Jurusan                        :   Manajemen
Kelas                           :   4EA31
            Berkas:Logo Gunadarma.jpg

FAKULTAS EKONOMI
       UNIVERSITAS GUNADARMA





1.          PROFIL PERUSAHAAN 
Japan Airlines adalah salah satu maskapai penerbangan dunia yang sudah dikenal reputasinya yang baik. Baik dalam hal pelayaann di darat maupun di udara. Itulah mengapa, maskapai yang berdiri sejak 1 Agustus 1951 sering menjadi barometer pelayanan maskapai lain di dunia. Untuk penerbangan internasional pertamanya, Japan Airlines menempuh Tokyo – San Fransisco menggunakan pesawat Douglas DC 6. Penerbangan ini dilakukan pada tanggal 2 Februari 1954. 
Dengan kekuatan armada mereka yang cukup kuat, Japan Airlines tidak mengalami kesulitan manakala pada tahun 1970an, pemerintah Jepang menerapkan deregulasi penerbangan. Di antaranya melakukan privatisasi Japan Airlines dan membuka kran persaingan di transportasi udara. Akhirnya dengan kondisi ini masuklah dua pesaing baru, yaitu All Nipon Airways dan juga Japan Air System. 
Perkembangan selanjutnya yang terjadi, antara Japan Airlines dan Japan Air System kemudian mengikat kerjasama. Proses kerjasama ini adalah kesepakatan kedua maskapai untuk melakukan merger. Bergabungnya dua perusahaan ini terjadi pada tahun 2001 dan selesai pada tahun 2004. Untuk menjaga potensi pasar yang sudah terbentuk, dan proses merger tersebut disepakati bahwa nama Japan Airlines akan dipertahankan sebagai identitas perusahaan tersebut. 







2.       LATAR BELAKANG
Setelah melakukan merger dengan nama Japan Air System, terjadi sedikit perubahan dalam manajemen Japan Airlines. Salah satu yang dilakukan adalah masuk ke dalam aliansi Oneworld sejak 1 April 2007. Sayangnya, keputusan ini justru tidak diikuti dengan perkembangan positif dalam transaksi keuangan Japan Airlines. 
Salah satu dampak yang terasa adalah kerugian besar yang menimpa Japan Airline pada tahun transaksi 2009. Perusahaan ini mengalami goncangan yang sangat dahsyat dan mengancam stabilitas. JAPAN AIRLINES Tak kuasa menanggung beban utang korporat sekitar US$25,6 miliar. JAPAN AIRLINES mengajukan perlindungan pailit kepada Pengadilan Distrik di Tokyo. Maskapai itu juga dibebani dengan pembayaran gaji dan pensiun yang terus membengkak dan rute domestik nirlaba yang secara politis wajib dipertahankan. 
Untuk menyelamatkan perusahaan dari ancaman kebangkrutan, akhirnya pemerintah memberikan dana talangan sebesar 100 juta yen. Selain itu dibentuk pula kepanitiaan yang bertugas menangani penyelesaian masalah keuangan maskapai ini. Beberapa program pun dirancang demi menghindarkan Japan Airlines dari kebangkrutan. Salah satunya dilakukan dengan menjual saham mayoritas kepada American Airlines yang juga anggota Oneworld. Selain kepada American Airlines, Japan Airlines sempat menjajaki kemungkinan menjual saham mereka kepada Delta Airlines. 
Namun demikian, proses penjualan saham kepada Delta Airlines mengalami hambatan. Hal ini disebabkan Delta Airlines merupakan anggota Sky team, aliansi penerbangan seperti Oneworld. Dengan kondisi ini, Japan Airlines memutuskan tidak melanjutkan proses transaksi dengan Delta, maka keanggotaan Japan Airlines akan berada di bawah aliansi SkyTeam serta keluar dari Oneworld. 
Jika ini terjadi dikhawatirkan akan terjadi kebingungan di kalangan konsumen. Selain itu, Japan Airlines akan kehilangan kesempatan perlindungan antimonopoli dari agen Amerika Serikat. Hal ini merupakan salah satu kesepakatan yang didapat dari perjanjian ruang terbuka Jepang dan Amerika Serikat. 
Akhirnya American Airlines menjadi salah satu maskapai yang memiliki kesempatan untuk membeli saham mayoritas dari Japan Airlines. Meski pada saat yang bersamaan ada beberapa maskapai besar lain yang sebenarnya juga berminat untuk memiliki saham dari Japan Airlines seperti dari Prancis melalui Air France KLM, British Airways dari Inggris dan juga Qantas dari Australia, namun Japan Airlines menolak semua tawaran tersebut. 
Namun, meski sudah menjual saham mayoritas mereka masalah keuangan yang melanda Japan Airlines belum juga selesai. Akhirnya sejak 19 Januari 2010, maskapai dimasukkan ke dalam program Perlindungan Kebangkrutan Jepang. Dampak dari kondisi ini adalah terjadinya restrukturisasi atau pengurangan jumlah karyawan mereka. Sebelum mengalami masalah keuangan, Japan Airlines memiliki 47ribu karyawan. Namun dengan kesulitan finansial yang melanda, mereka harus menghentikan 15 ribu karyawan. Selain itu, armada yang dimiliki pun dikurangi jumlahnya disamping juga mengadakan pembaruan pesawat. Sementara untuk masalah rute penerbangan internasional, Japan Airline mengadakan penjadwalan ulang guna mendapatkan efisiensi. 
3.       PERMASALAHAN 
Japan Airline mengalami kebangkrutan akibat manajemen buruk selama bertahun-tahun, biaya tinggi, serta tekanan pemerintah untuk melayani rute tidak menguntungkan di bandara kecil. Selain itu, Japan Airlines terpuruk akibat krisis ekonomi global. 
Operasi JAPAN AIRLINES yang merugi, hutang yang membengkak, kebijakan penerbangan yang tidak efisien, dan birokrasi yang lambat, membuat kebijakan bail out. Masalah mendasar dari JAPAN AIRLINES adalah “permainan’ dari segi tiga besi (iron triangle) antara pengusaha, penguasa, dan politisi dalam operasional JAPAN AIRLINES selama ini. JAPAN AIRLINES dianggap sebagai sebuah perusahaan besar kebanggaan negeri yang tak boleh bangkrut (too big to fail). Oleh karena itu suntikan likuiditas secara massif diberikan terus menerus kepada JAPAN AIRLINES. Namun di sisi lain, operasi JAPAN AIRLINES tidak dibenahi secara serius. Tekanan dari kekuatan politik dan pemerintah pada eksekutif JAPAN AIRLINES untuk melayani ambisi mereka membuka route-route yang tidak menguntungkan, telah menambah beban operasional JAPAN AIRLINES. Hal ini ditambah lagi dengan berbagai masalah birokrasi dan remunerasi yang tidak efisien. 
Sejak merugi di tahun 2001, lonceng kematian bagi JAPAN AIRLINES memang seolah hanya menunggu waktu. Tragedi 9/11, wabah virus SARS, Flu Burung, ancaman teroris, di samping resesi ekonomi, telah memukul JAPAN AIRLINES secara bertubi-tubi. Meski melayani lebih dari 217 airport dan 35 negara, JAPAN AIRLINES menjadi perusahaan penerbangan yang gemuk dan tidak efisien. Hutangpun membengkak hingga mencapai sekitar Rp 200 triliun. 
Bangkrutnya JAPAN AIRLINES semakin memperkuat adanya masalah serius yang dihadapi oleh perekonomian Jepang. Meski masih memegang gelar sebagai negara dengan perekonomian terkuat nomor dua di dunia, Jepang bagai macan yang terluka. Ekonominya melesu, pengangguran dan kemiskinan meningkat, dan perusahaan besar berguguran. Bangkrutnya JAPAN AIRLINES adalah kebangkrutan terbesar perusahaan di luar sektor keuangan sejak Perang Dunia ke-II. Oleh karena itu, upaya serius untuk bangkit dari krisis sedang ditempuh oleh pemerintah Jepang. 
4.       MENGAPA JAL RUGI ?
Memiliki banyak rute penerbangan internasional tak selamanya menguntungkan. JAL mengoperasikan 70 rute internasional, dan ini dijawabnya dengan berekspansi secara impulsif: cabang dibuka di pelbagai negara, jumlah pekerja dinaikkan, perks untuk pekerja diperbanyak. Ekspansi ini penting, namun strateginya dinilai tidak kompetitif menghadapi kebijakan open-sky, resesi global yang tak terduga dan perang tarif (era penerbangan murah). Sehingga pada September 2009, laporan fiskal interim-nya mencatat bahwa pendapatan JAL turun 43% menjadi 225.4 milyar yen jika dibandingkan tahun 2008.
https://ari3f.files.wordpress.com/2010/01/9156.jpg?w=300&h=212
Rute internasional JAL
Dua anak perusahaannya, Japan Airlines International Co. dan JAL Capital Co. pun terlilit hutang. Total hutang JAL dan dua anak perusahaannya itu jadi sebesar 2.3 trillion yen. Angka yang melewati level hutang 22 Sogo Group yang runtuh tahun 2000. Harga saham JAL pun menukik tajam.
5.       DAMPAK PUBLIK
Nasib JAL yang terombangambing ke arah kebangkrutan membuat para pemegang saham menjual sahamnya. Hal ini sangat melemahkan kepercayaan pasar, sehingga nilai saham JAL di pasar modal terus mengalami penurunan  dari 213 yen menjadi 67 yen hingga akhirnya anjlok di titik 5 yen per lembar pada 19 Januari 2010.
6.       DAMPAK PADA REPUTASI
Ketika dihadapkan pada masalah kebangkrutan, pertimbangan yang diambil untuk mengatasi masalah ini merupakan keputusan yang harus diambil dengan cermat. Hal ini tidak terlepas dari status JAL sebagai representasi dari Japan Inc. Jika JAL dibiarkan bangkrut maka harga diri Jepang akan menjadi tercoreng karena tidak mampu mempertahankan perusahaan penting yang menjadi salah satu simbol pemerintah Jepang. Jika JAL tetap diberi bailout seperti sebelumnya, tidak akan menjamin bahwa JAL tidak akan menghadapi masalah serupa. Jika JAL dibiarkan bangkrut, hal ini akan menjadi masalah yang besar dan sangat memalukan bagi pemerintah Jepang di mata internasional. Dengan demikian, masalah ini membutuhkan pertimbangan ekonomi politis. Namun, pada akhirnya pemerintah Jepang membiarkan JAL bangkrut untuk kemudian direstrukturisasi.    
7.       DAMPAK BISNIS
JAPAN AIRLINES juga harus memotong banyak kontrak dengan biro perjalanan, hotel, dan berbagai jaringan pariwisata yang telah ada selama ini. Hal itu bisa merugikan kalangan pengusaha, penguasa, dan tentu politisi yang punya kepentingan selama ini. 
8.       KEBANGKITAN JAPAN AIRLINES
Melihat utang perusahaan yang kian membengkak dan penumpang yang menurun, akhirnya pada 2010, Etic memilih Kazuo Inomuri, bos pensiunan perusahaan keramik yang telah dibaiat menjadi biksu pada 1997 lalu. Inomuri dikenal dengan prinsip mengutamakan pegawai dan berani menantang praktik bisnis pada umumnya. Selama mengambil pekerjaan ini, ketika usianya berusia 77 tahun, ia rela tidak mendapat gaji. Tujuannya agar para pegawai menyaksikan sendiri bagaimana ia serius ingin menyembuhkan kondisi Japan Airlines. "Fakta bahwa saya bekerja tanpa gaji memberikan pengaruh pada staff," ucapnya pada South China Morning Post. "Mereka dapat melihat bahwa saya bersusah payah ingin membangun kembali perusahaan meski saya tidak punya hubungan pada JAL sebelum ini."

Sistem Amoeba

https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/I9RB0l6t39RxfyWVSjNrsR03aMA=/1280x720/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1627326/original/033983600_1497767575-JAL.jpg

Sesuai reputasinya, ia mengubah sistem birokrasi di JAL, dari sebelumnya bersifat hierarkis, menjadi sistem amoeba. Dalam sistem itu, para departemen dan pegawai diberikan kesempatan berpikir agar tindakan mereka dapat berkontribusi positif pada keuntungan perusahaan.
Dengan ini, semua elemen perusahaan pun mendapat kepercayaan untuk ikut memperkuat perusahaan. Bila ada sesuatu yang tidak mengalami improvement, Inamori akan meneliti hal tersebut kepada sosok-sosok dari tiap departemen. Hasilnya pun tidak mengeewakan. Pada tahun fiskal 2011/2012, maskapai JAL menjadi maskapai paling profitable di dunia. Keuntungannya mencapai 186,6 miliar yen. Pihak Etic sendiri memandang itu sebagai keajaiban, pasalnya target yang dipatok hanya 60 miliar yen.  Inamori menyelesaikan jabatannya sebagai CEO JAL tak lama setelah perusahaan "sembuh" dan sahamnya kembali diperdagangkan di bursa efek Jepang.
Mengutip Financial Times, gaya kepemimpinan Inamori yang "berbeda" dari kultur hierarkis di Jepang membuatnya spesial di antara para konglomerat di Jepang. Ia mengaku tak suka dengan budaya serba menurut (complacency). Buntut dari complacency adalah timbulnya main aman yang justru kebalikan dari kultur inovatif. Inomori juga pemimpin dari Inamori Foundation yang memberi penghargaan dan dana penelitian di bidang sains, serta pencetus Hadiah Kyoto (Kyoto Prize) yang merupakan penghargaan paling bergengsi di Jepang.
9.       PENYEBAB KEBANGKITAN
Jepang Airlines dan American Airlines bekerja sama untuk memberikan tarif murah, dengan rute dan penerbangan di seluruh pasisik. Regulator Amerika dan Jepang memberikan persetujuan bagi keduanya untuk memperkuat aliansi pada akhir tahun lalu, dengan menandatangani kesepakatan "Open skies” untuk mendorong perjalanan udara. Kedua perusahaan itu telah bekerjasama selama 15 tahun terakhir. Dengan aliansi itu,keduanya bisa menangguk pendapatan 13 miliar yen (US$156 juta). Kerjasama ini juga penting bagi JAL untuk mengembalikan bisnisnya.

REFRENSI